Konflik horizontal yang melanda Kota Ternate sepanjang 2024 telah meninggalkan luka mendalam pada tatanan sosial-ekonomi masyarakat. Jaringan perdagangan yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian lokal mengalami kerusakan signifikan, sementara kepercayaan antar kelompok yang sempat terkikis menjadi penghambat utama proses pemulihan. Dampaknya terasa langsung pada sektor UMKM, terutama pelaku usaha hasil laut dan kerajinan, yang kehilangan akses pasar dan rantai pasok. Dalam konteks inilah, program kemitraan UMKM antarkelompok yang diluncurkan Pemerintah Kota Ternate pada 2026 hadir sebagai instrumen pemulihan ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada rekonsiliasi sosial.
Akar Masalah dan Peta Aktor dalam Ekonomi Pasca-Konflik
Sebelum memahami efektivitas program ini, penting untuk menguraikan akar masalah yang menyebabkan terpuruknya ekonomi pasca-konflik di Ternate. Berdasarkan kajian lapangan, terdapat tiga faktor utama yang saling terkait:
- Rusaknya jaringan distribusi — konflik menyebabkan banyak jalur perdagangan antarwilayah terputus, sehingga pasokan bahan baku dan distribusi produk UMKM menjadi tidak stabil.
- Erosi kepercayaan antar kelompok — trauma konflik menciptakan segregasi sosial yang berimbas pada enggannya pelaku usaha dari kelompok berbeda untuk bertransaksi atau bekerja sama.
- Keterbatasan akses modal dan pendampingan — mayoritas UMKM di Ternate adalah usaha mikro dengan keterbatasan kapasitas manajemen, dan setelah konflik, akses mereka terhadap permodalan semakin sempit akibat persepsi risiko yang tinggi.
Aktor yang terlibat dalam dinamika ekonomi pasca-konflik ini meliputi pelaku UMKM dari kelompok masyarakat yang sebelumnya berkonflik, pemerintah kota sebagai fasilitator, serta lembaga keuangan daerah yang menjadi penyedia modal. Keberhasilan program kemitraan ini bergantung pada kemampuan semua pihak untuk melewati sekat-sekat sosial yang ada.
Strategi Solutif dan Rekomendasi Kebijakan untuk Replikasi
Program kemitraan UMKM antarkelompok di Ternate menerapkan pendekatan bertahap yang menggabungkan aspek ekonomi dan sosial. Pendampingan manajemen diberikan secara intensif kepada pelaku usaha, mencakup pelatihan pencatatan keuangan, strategi pemasaran, dan pengelolaan rantai pasok. Akses permodalan difasilitasi melalui skim kredit khusus dari bank daerah dengan bunga ringan dan skema penjaminan yang melibatkan pemerintah kota. Selain itu, pameran bersama yang mempertemukan produk dari berbagai kelompok menjadi ruang negosiasi dan kolaborasi yang efektif untuk membangun kembali kepercayaan antar kelompok.
Hasilnya, pasar tradisional di Ternate mulai menunjukkan geliat baru. Kelompok yang sebelumnya bermusuhan kini bekerja sama dalam rantai pasok hasil laut dan kerajinan — sebuah simbolisme kuat bahwa pemulihan ekonomi dan rekonsiliasi sosial dapat berjalan beriringan. Namun, agar program ini dapat direplikasi di daerah lain yang mengalami konflik serupa, diperlukan dua rekomendasi kebijakan utama. Pertama, pemetaan potensi ekonomi masing-masing kelompok harus dilakukan sebelum program dimulai, sehingga kemitraan yang dibangun benar-benar saling menguntungkan dan tidak timpang. Kedua, penguatan kelembagaan koperasi lintas komunitas menjadi prasyarat keberlanjutan, karena koperasi berfungsi sebagai wadah bersama yang memfasilitasi koordinasi, distribusi, dan penyelesaian sengketa di kemudian hari.
Terakhir, untuk para pengambil keputusan di tingkat pusat maupun daerah, rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti adalah mengintegrasikan program kemitraan UMKM antarkelompok ke dalam rencana pembangunan ekonomi daerah pasca-konflik secara formal, lengkap dengan indikator keberhasilan yang terukur. Pemerintah juga perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk pendampingan berkelanjutan dan penguatan kapasitas kelembagaan koperasi lintas komunitas, serta membangun sistem pemantauan yang melibatkan tokoh masyarakat dari semua kelompok untuk menjaga akuntabilitas. Hanya dengan pendekatan yang sistematis dan inklusif, ekonomi pasca-konflik di Ternate dapat menjadi model bagi daerah lain dalam membangun kembali perekonomian sambil merajut kembali harmoni sosial.