Program "Sekolah Perdamaian" yang dijalankan oleh koalisi LSM dan pemerintah daerah di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, menunjukkan hasil signifikan dalam memutus siklus regenerasi konflik. Evaluasi dua tahun menunjukkan penurunan 40% keterlibatan remaja dalam insiden bernuansa SARA dibanding daerah tanpa program serupa. Akar konflik Poso yang kompleks, dengan luka sejarah mendalam, ternyata dapat diatasi dengan pendekatan psiko-sosial terstruktur yang menyasar generasi muda sejak dini. Dinamika program ini melibatkan kurikulum informal yang mengajarkan sejarah konflik secara obyektif, keterampilan komunikasi non-kekerasan, dan proyek kolaboratif antar kelompok agama. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan hard security saja tidak cukup; diperlukan investasi jangka panjang pada modal sosial. Opsi penyelesaian yang direplikasi adalah integrasi modul perdamaian ke dalam muatan lokal pendidikan formal, didukung oleh pelatihan guru. Rekomendasi kebijakan: Kemdikbudristek perlu membuat pedoman nasional "Sekolah Damai" yang dapat diadaptasi daerah rawan konflik, dengan alokasi dana BOS khusus dan melibatkan mantan kombatan sebagai fasilitator.