Ketegangan antara dua kelompok pemuda di Kelurahan Karang Pule, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang selama ini kerap terlibat tawuran akibat persaingan prestise dan pengaruh geng, berhasil direkayasa ulang menjadi momentum rekonsiliasi melalui Lomba Kreasi Ramadan. Konflik horizontal ini melibatkan puluhan pemuda dari dua geng berbeda, dengan dampak berupa kerusakan fasilitas umum dan kekhawatiran warga akan keselamatan. Pendekatan represif yang selama ini diterapkan—seperti patroli ketat dan penangkapan—terbukti tidak efektif menurunkan eskalasi, sehingga pemerintah kelurahan bersama tokoh pemuda menginisiasi strategi transformatif berbasis kreativitas. Inisiatif ini tidak hanya meredam konflik, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan potensi positif pemuda di Kota Mataram.
Akar Masalah: Ketiadaan Wadah Ekspresi dan Pengangguran
Analisis terhadap konflik antarkelompok pemuda di Karang Pule mengungkap dua faktor utama yang saling menguatkan. Pertama, kurangnya wadah ekspresi positif yang menyebabkan energi kreatif pemuda tersalurkan secara destruktif. Kedua, tingginya angka pengangguran di kalangan usia produktif yang memicu frustrasi dan memperkuat identitas geng sebagai substitusi harga diri. Berdasarkan data dari pihak kelurahan, lebih dari 40% pemuda di wilayah tersebut tidak memiliki kegiatan produktif setelah lulus sekolah. Faktor-faktor pemicu tersebut dapat dirinci sebagai berikut:
- Persaingan prestise: Perebutan pengaruh di antara geng pemuda yang seringkali dipicu oleh hal sepele seperti saling ejek di media sosial.
- Ketiadaan pusat kegiatan: Tidak ada ruang publik yang memfasilitasi kegiatan seni, olahraga, atau keterampilan secara gratis dan berkelanjutan.
- Lemahnya keterlibatan tokoh masyarakat: Sebelumnya, tokoh pemuda dan pemerintah kelurahan belum secara aktif merancang program alternatif bagi kelompok rentan konflik.
- Stigma negatif: Kedua kelompok pemuda kerap dipandang sebagai masalah, bukan sebagai aset yang potensial untuk diberdayakan.
Lomba Kreasi Ramadan yang digelar selama bulan suci menjadi titik balik. Ajang ini mempertemukan kedua kelompok dalam kegiatan yang sarat nilai positif, seperti lomba kaligrafi, mural bertema perdamaian, dan pentas musik islami. Dengan mengedepankan aspek keagamaan dan kebersamaan, kegiatan ini berhasil membangun dialog antar pemuda yang sebelumnya bermusuhan. Dalam sebulan implementasi, angka tawuran menurun hingga 50% — sebuah indikator awal keberhasilan pendekatan berbasis kreativitas dan rekonsiliasi di Mataram.
Rekomendasi Kebijakan: Dari Lomba ke Pusat Kreativitas Berkelanjutan
Keberhasilan Lomba Kreasi Ramadan di Kelurahan Karang Pule Mataram menunjukkan bahwa intervensi berbasis budaya dan seni dapat menjadi katalis resolusi konflik. Namun, dampak jangka panjang memerlukan pelembagaan program. Oleh karena itu, pemerintah kelurahan bersama tokoh pemuda merencanakan pembentukan Pusat Kreativitas Pemuda yang didanai oleh CSR perusahaan lokal dan skema program magang di sektor usaha kreatif. Langkah konkret yang perlu diambil oleh pengambil kebijakan di Kota Mataram meliputi:
- Mengalokasikan anggaran khusus untuk pembangunan pusat kegiatan pemuda yang terintegrasi dengan program pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.
- Memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, khususnya sektor ekonomi kreatif, untuk menyediakan lapangan kerja dan magang bagi pemuda rentan konflik.
- Melibatkan tokoh agama dan pemuda dalam perencanaan dan evaluasi program secara berkala, guna memastikan keberlanjutan dialog rekonsiliasi.
Dengan demikian, momentum rekonsiliasi yang tercipta selama Ramadan tidak hanya menjadi euforia sesaat, tetapi dapat melembaga menjadi ekosistem pencegahan konflik yang berkelanjutan. Rekomendasi kebijakan ini perlu segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Mataram, Dinas Pemuda dan Olahraga, serta para pemangku kepentingan lainnya, agar potensi konflik horizontal antar pemuda dapat diubah menjadi energi produktif bagi pembangunan sosial dan ekonomi daerah.