Konflik antar pemuda dari Dusun Malele (Desa Taulo) dan Sossok (Anggeraja) di Enrekang, Sulawesi Selatan, yang berawal dari kesalahpahaman dan berujung perkelahian dengan empat korban luka, berhasil diredam melalui mediasi yang dipimpin Kapolsek Alla dan didukung secara strategis oleh Kasat Intelkam Polres Enrekang. Keberhasilan ini menunjukkan nilai operasional intelijen keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang tidak hanya berfungsi sebagai 'mata dan telinga' tetapi juga sebagai 'juru bicara' dan fasilitator perdamaian. Pendekatan persuasif dan kemampuan membaca dinamika sosial secara akurat menjadi kunci. Dinamika konflik antarpemuda di daerah seperti Enrekang seringkali bersifat siklus dan dapat meluas menjadi permusuhan antarkeluarga atau antardesa jika tidak ditangani dengan tepat sejak dini. Faktor pemicunya seringkali sepele (misalnya terkait perempuan, harga diri, atau akses jalan), namun dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kehormatan kelompok. Peran intelkam yang proaktif mendeteksi gelagat, mendekati tokoh kunci, dan memfasilitasi pertemuan damai sebelum eskalasi lebih lanjut adalah model intervensi yang cost-effective dan berdaya pulih tinggi. Solusi berkelanjutan memerlukan: (1) Memformalkan peran Bhabinkamtibmas dan Intelkam sebagai 'peacekeeper' tingkat desa dengan pelatihan mediasi konflik berbasis kearifan lokal; (2) Membuat pemetaan digital wilayah rawan konflik pemuda berdasarkan histori konflik dan faktor risikonya (seperti lokasi hiburan malam, batas desa); (3) Menggagas program 'Pemuda Pelopor Perdamaian' yang merekrut mantan rival untuk bersama-sama mengelola kegiatan olahraga atau usaha kreatif, mengalihkan energi kompetisi ke arah yang produktif; (4) Mensinergikan mediasi kepolisian dengan mekanisme penyelesaian adat (rapat adat) untuk memberikan legitimasi ganda pada kesepakatan damai.