Dalam upaya mengantisipasi eskalasi konflik horizontal yang sering kali berakar pada perbedaan ideologi keagamaan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengalihkan fokus strategisnya ke unit keluarga sebagai basis pertahanan awal. Pendekatan ini lahir dari analisis mendalam yang menunjukkan bahwa radikalisme bukan hanya persoalan individu, melainkan hasil dari keretakan struktur sosial yang paling fundamental. Ketika kohesi keluarga melemah, ruang tersebut rentan diisi oleh narasi eksklusif yang dapat memicu polarisasi dan bahkan kekerasan di tingkat komunitas. Strategi ini menempatkan pencegahan konflik sosial berbasis SARA sebagai tujuan utama, dengan menyadari bahwa keluarga yang tangguh adalah modal sosial terpenting bagi stabilitas nasional.

Anatomi Kerentanan: Dari Disharmoni Domestik ke Konflik Sosial

Analisis konflik menunjukkan bahwa jalan menuju ekstremisme sering kali dimulai dari ruang keluarga yang rapuh. Radikalisme menemukan celah subur bukan pada individu yang terisolasi secara sosial, melainkan pada mereka yang mengalami disfungsi dalam lingkungan terdekatnya. Beberapa faktor kunci yang menjadi pemicu kerentanan ini antara lain:

  • Disharmoni dan Komunikasi yang Terputus: Kurangnya dialog konstruktif antaranggota keluarga menciptakan kekosongan emosional dan pencarian identitas di luar lingkaran keluarga.
  • Kegagalan Transmisi Nilai: Ketidakmampuan keluarga dalam menanamkan pemahaman agama yang inklusif dan moderat, sehingga nilai-nilai tersebut mudah tergantikan oleh tawaran ideologi yang simplistik dan hitam-putih.
  • Eksploitasi Jaringan Radikal: Kelompok ekstrem aktif memanfaatkan kerapuhan psikologis ini, menawarkan rasa memiliki, tujuan hidup, dan narasi heroik yang mengubah keresahan pribadi menjadi kebencian terhadap kelompok lain.

Oleh karena itu, pendekatan yang bersifat preventif melalui keluarga bukan sekadar program sosial, melainkan upaya strategis untuk membangun ketahanan masyarakat dari akar rumput. Program deradikalisasi yang hanya berfokus pada individu setelah terpapar sering kali terlambat dan tidak menyentuh akar masalah sosial yang lebih luas.

Membangun Ketahanan: Strategi Integratif dan Rekomendasi Kebijakan

Strategi baru BNPT, yang diwujudkan dalam program seperti 'Keluarga Tangguh', mengusung pendekatan multi-sektoral. Program ini dirancang untuk memperkuat peran keluarga sebagai filter pertama terhadap infiltrasi paham ekstrem. Implementasinya memerlukan kerangka kerja yang terintegrasi dan terukur. Beberapa pilar utama dalam strategi ini meliputi:

  • Kapasitasi Orang Tua dan Tokoh Masyarakat: Melalui pelatihan untuk mengenali tanda-tanda awal radikalisasi, seperti perubahan perilaku drastis, sikap intoleran, atau keterlibatan dalam kelompok tertutup.
  • Kolaborasi dengan Ormas Islam Moderat: Bermitra untuk menyediakan narasi keagamaan alternatif yang konstruktif, damai, dan sesuai dengan konteks kebangsaan Indonesia, sehingga mengisi ruang ideologi yang sehat.
  • Integrasi dengan Layanan Sosial dan Keagamaan: Menghubungkan program pencegahan dengan layanan konseling keluarga, bimbingan keagamaan di masjid/musholla, dan program pemberdayaan ekonomi di tingkat desa.

Untuk memastikan efektivitas jangka panjang, pendekatan berbasis keluarga ini memerlukan komitmen kebijakan yang konkret dan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan.

Sebagai media yang fokus pada penyelesaian konflik horizontal, Pilar-Resolusi merekomendasikan langkah-langkah kebijakan berikut kepada pemerintah, khususnya BNPT dan kementerian terkait: Pertama, alokasikan anggaran khusus dan berkelanjutan untuk riset dan intervensi psiko-sosial berbasis keluarga, dengan prioritas pada daerah yang teridentifikasi memiliki kerentanan tinggi terhadap konflik SARA. Data riset harus menjadi fondasi program yang tepat sasaran. Kedua, kuatkan kerangka regulasi yang mendorong sinergi antara BNPT, Kemendagri, Kemenag, dan Kemensos dalam mengarusutamakan program ketahanan keluarga ke dalam kebijakan pembangunan desa dan kota. Ketiga, kembangkan sistem pemantauan dan evaluasi yang ketat untuk mengukur dampak program 'Keluarga Tangguh' tidak hanya pada penurunan potensi terorisme, tetapi terutama pada peningkatan kohesi sosial dan penurunan tensi konflik horizontal di masyarakat. Investasi pada ketahanan keluarga adalah investasi yang paling strategis untuk perdamaian jangka panjang.