Transisi ancaman dari arena digital ke konflik horizontal di jantung perkotaan Indonesia merupakan tantangan strategis utama bagi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, dengan keragaman identitas dan tekanan ekonomi tinggi, telah menjadi medan subur bagi polarisasi sosial yang dapat mengancam stabilitas ekonomi dan integrasi nasional. Pergeseran paradigma BNPT menuju pendekatan preventif berbasis data merupakan respons fundamental terhadap kompleksitas ancaman yang, jika tidak dikelola, dapat meruntuhkan modal sosial dan kohesi komunitas di pusat-pusat urban.
Anatomi Eskalasi Konflik Horizontal Urban dari Digital ke Fisikal
Konflik horizontal di daerah urban jarang bersifat spontan; ia merupakan produk akhir dari proses eskalasi bertahap yang didorong oleh faktor struktural yang saling terkait. Pemahaman mendalam terhadap anatomi ini menjadi prasyarat bagi formulasi kebijakan yang efektif.
- Isolasi Sosial sebagai Inkubator: Alienasi sosial akibat urbanisasi masif dan fragmentasi komunitas dimanfaatkan oleh narasi radikal yang menawarkan identitas kolektif tertutup. Media sosial mempercepat diseminasi dikotomi 'kami versus mereka', mengikis modal sosial dan rasa kebersamaan.
- Kapitalisasi Ketidakpuasan Ekonomi: Kesulitan ekonomi dan ketimpangan dialihkan oleh aktor radikal menjadi kebencian horizontal. Narasi simplistik yang menyediakan 'kambing hitam' berfungsi sebagai katup pelarian untuk ketegangan sosial-ekonomi kompleks.
- Dinamika Online-to-Offline sebagai Titik Kritis: Perpindahan dari ujaran kebencian online ke aksi kolektif offline merupakan titik kritis dimana biaya intervensi—finansial, keamanan, dan kerusakan kohesi sosial—melonjak secara eksponensial.
Pola eskalasi ini menegaskan bahwa pendekatan preventif harus menargetkan seluruh tahapan, dengan fokus khusus pada pengelolaan dinamika transisi dari online ke offline.
Evaluasi Celah Implementasi Strategi Preventif BNPT
Strategi preventif BNPT yang dibangun atas tiga pilar—deteksi dini berbasis data, penguatan forum dialog, dan deradikalisasi komunitas—merupakan respons konseptual yang tepat. Namun, efektivitasnya bergantung pada kedalaman implementasi dan kemampuan mengisi celah strategis yang masih ada.
Pilar pertama, sistem deteksi dini berbasis big data, berpotensi menjadi early warning system yang powerful. Tantangan implementasi utama berada pada dua area:
(1) kapasitas analisis yang harus melampaui pemantauan kata kunci menuju pemahaman konteks dan jaringan sosial, dan
(2) kolaborasi data yang mulus dengan institusi lain seperti Kementerian Komunikasi dan Informatika serta pemerintah daerah, yang sering terbentur regulasi sharing informasi.
Pilar kedua, revitalisasi Forum Kerukunan, menghadapi tantangan dalam menjangkaringkan efek dialog ke kelompok yang paling teralienasi secara sosial dan ekonomi. Forum seringkali beroperasi di level elite komunitas, tanpa mekanisme inklusi yang efektif untuk menarik partisipasi dari individu yang telah terpapar narasi eksklusif di ruang digital.
Pilar ketiga, deradikalisasi komunitas, perlu mengatasi gap antara program top-down yang terstruktur dan kebutuhan bottom-up untuk intervensi yang sangat lokal dan kontekstual, sesuai dengan dinamika spesifik setiap daerah urban.
Untuk mengatasi tantangan struktural ini, diperlukan rekomendasi kebijakan yang konkret dan dapat ditindaklanjuti oleh pengambil keputusan. Rekomendasi tersebut harus memperkuat kerangka preventif BNPT dengan mengintegrasikan pendekatan multi-pihak dan berbasis data yang lebih holistik.