Pascakonflik horizontal besar di Poso, Sulawesi Tengah, tantangan terberat adalah reintegrasi sosial dan ekonomi bagi eks kombatan dan keluarganya. Akar masalah reintegrasi gagal terletak pada stigma masyarakat, sulitnya akses ekonomi, dan potensi radikalisasi lanjutan. Dinamika pascakonflik ditandai dengan isolasi sosial kelompok tertentu dan ketakutan akan kembalinya kekerasan. Opsi penyelesaian yang diuji di Poso mencakup program deradikalisasi plus pemberdayaan ekonomi, seperti pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, dan pendampingan oleh tokoh agama moderat. Strategi yang lebih holistik juga melibatkan rekonsiliasi komunitas melalui pertemuan terbuka dengan korban, permohonan maaf publik, dan proyek pembangunan bersama. Analisis menunjukkan bahwa keberhasilan reintegrasi sangat bergantung pada konsistensi pendampingan jangka panjang dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat (tokoh agama, adat, pemuda, pemerintah). Kegagalan sering terjadi ketika program hanya bersifat karitatif (memberi bantuan) tanpa mengubah narasi dan hubungan sosial. Rekomendasi kebijakan: membuat program nasional 'Desa Inklusif' untuk daerah pascakonflik, dengan pendekatan community-driven development, di mana eks kombatan yang telah direhabilitasi dilibatkan dalam perencanaan dan eksekusi proyek pembangunan desanya sendiri, untuk membangun rasa kepemilikan dan diterima kembali.