Analisis
MUI Bekasi Gelar Mediasi Abah Setu, Upaya Rekonsiliasi Pascakontroversi Penistaan Agama
11 September 2026, 00:00
15 views
Kontroversi muncul setelah video ceramah Abah Setu dari Majelis Dzikir Nurul Hikam di Bekasi dianggap menista Nabi Muhammad SAW, memicu kemarahan massa yang mendatangi padepokannya. Dinamika konflik menunjukkan sensitivitas isu keagamaan di ruang publik digital, di mana konten yang viral dapat dengan cepat memanaskan sentimen kelompok. Akar masalah terletak pada perbedaan pemahaman metodologi keagamaan (syariat vs. hakekat) yang dikomunikasikan tanpa filter kepada khalayak luas.
MUI Kabupaten Bekasi mengambil peran mediasi yang konstruktif dengan menggelar pertemuan di Mapolres Metro Bekasi, melibatkan tokoh agama dan masyarakat. Pendekatan ini berhasil meredakan ketegangan setelah Abah Setu secara terbuka mengakui kesalahan dan meminta maaf. Langkah preventif MUI berupa pengawasan dan pembinaan terhadap majelis taklim menjadi model solusi institusional yang dapat direplikasi.
Opsi penyelesaian berkelanjutan mencakup program pembinaan berjenjang untuk pemimpin spiritual non-formal, pembuatan pedoman komunikasi keagamaan di media digital, serta penguatan peran forum kerukunan umat beragama (FKUB) dalam deteksi dini potensi konflik. Rekomendasi kebijakan: integrasi literasi digital-keagamaan dalam kurikulum dakwah dan pemberdayaan MUI daerah sebagai mediator kredibel.