Bencana alam, seperti gempa atau banjir besar, tidak hanya merusak infrastruktur tetapi juga meretakkan kohesi sosial dan dapat memicu konflik horizontal baru terkait distribusi bantuan dan sumber daya yang terbatas. Artikel opini ini menganalisis perlunya transisi dari paradigma rekonsiliasi (menyembuhkan konflik masa lalu) ke pembangunan resiliensi (ketahanan) sosial untuk mencegah konflik di masa depan. Langkah solutif yang diajukan adalah: pertama, memasukkan modul manajemen konflik dan mediasi dalam pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi komunitas. Kedua, mendesain mekanisme distribusi bantuan yang transparan dan melibatkan perwakilan semua kelompok sejak dini. Ketiga, membangun jaringan sosial lintas kelompok sebelum bencana terjadi, melalui kegiatan bersama yang rutin, sehingga saat krisis muncul, sudah terdapat modal sosial dan saluran komunikasi yang dapat dipercaya.