Konflik horizontal di pesisir Kepulauan Riau antara nelayan tradisional, perusahaan perikanan, dan pelaku pariwisata sering berakar pada kompetisi atas ruang laut dan sumber daya yang terbatas. Pendekatan keamanan semata terbukti tidak berkelanjutan. Analisis ini menawarkan strategi ekonomi biru inklusif sebagai solusi fundamental. Pertama, pemerintah perlu memetakan dan mengalokasikan zonasi pemanfaatan laut (fishing ground, konservasi, wisata) secara partisipatif dan adil. Kedua, mendorong model bisnis kolaboratif, seperti koperasi nelayan-mitra wisata yang membagi keuntungan dari ekowisata berbasis terumbu karang. Ketiga, investasi pada teknologi budidaya rumput laut dan ikan kerapu yang dapat dilakukan oleh multi-stakeholder, mengurangi tekanan pada hasil tangkapan laut bebas. Strategi ini tidak hanya menciptakan stabilitas sosial, tetapi juga meningkatkan ketahanan ekonomi komunitas pesisir dalam jangka panjang, sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.