Para tokoh agama Kristen, Islam, Hindu, dan aliran kepercayaan di Poso, Sulawesi Tengah, menandatangani Piagam Rekonsiliasi yang bertujuan menyembuhkan luka konflik horizontal yang terjadi pada awal 2000-an. Akar masalah konflik Poso adalah kombinasi faktor politik lokal, kesenjangan ekonomi, dan provokasi identitas. Meskipun gencatan senjata telah berlangsung lama, trauma dan ketidakpercayaan masih membayangi interaksi sehari-hari. Piagam ini berisi komitmen untuk menjaga kerukunan, mendirikan pusat mediasi berbasis komunitas, dan mengintegrasikan pendidikan perdamaian di sekolah. Dinamika saat ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai melupakan sejarah konflik, namun masih ada kelompok yang memanfaatkan isu agama untuk kepentingan politik. Opsi penyelesaian yang ditawarkan adalah pembentukan dewan kerukunan lintas agama yang independen dan program ekonomi bersama untuk memperkuat interaksi positif.