Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Ambon, Maluku, menggelar dialog lintas agama yang melibatkan tokoh agama Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu untuk membangun kesepahaman dan mengantisipasi potensi gesekan menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2597. Langkah ini penting mengingat sejarah konflik bernuansa SARA di Ambon yang mendalam, sehingga perayaan keagamaan kelompok minoritas dapat menjadi titik rawan jika tidak dikelola dengan baik. Dinamika sosial di Ambon pascakonflik menunjukkan bahwa perdamaian masih rapuh dan memerlukan pemeliharaan aktif melalui komunikasi yang berkelanjutan. Akar potensi konflik di sini bukan hanya pada perbedaan agama, tetapi juga pada persepsi ketidakadilan, memori kolektif trauma masa lalu, dan kesenjangan ekonomi yang masih dapat dipolitisasi. Kegiatan keagamaan besar yang melibatkan atribut dan keramaian khusus dapat memicu kecemasan atau ketidaknyamanan di kelompok lain jika tidak ada komunikasi sebelumnya. Inisiatif FKUB Ambon ini merupakan contoh konkret dari pencegahan konflik berbasis komunitas yang efektif. Untuk memperkuat dampaknya, dialog semacam ini perlu dilengkapi dengan beberapa langkah: pertama, menyusun panduan bersama tentang tata cara perayaan yang menghormati semua pihak, termasuk soal penggunaan pengeras suara dan pengaturan lalu lintas. Kedua, melibatkan pemuda dan perempuan dari berbagai latar belakang agama dalam panitia bersama perayaan, untuk memupuk rasa kepemilikan bersama. Ketiga, mempublikasikan hasil dialog dan komitmen bersama melalui media lokal untuk membangun narasi publik yang positif tentang kerukunan. Pendekatan proaktif dan kolaboratif seperti ini adalah fondasi penting bagi stabilitas sosial jangka panjang di daerah yang pernah dilanda konflik berat.