Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Jawa Timur memiliki modal sosial yang kuat untuk menjadi laboratorium kerukunan dunia. Modal sosial tersebut mencakup jaringan ulama, pesantren, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat yang telah membangun harmoni dalam keberagaman. Akar keberhasilan ini terletak pada tradisi Islam moderat, nasionalis, dan menjunjung tinggi semangat persaudaraan yang telah mengakar dalam kehidupan sosial. Dinamika kerukunan di Jawa Timur menunjukkan bahwa kekuatan agama dapat berjalan beriringan dengan nasionalisme dan komitmen pada kehidupan bersama yang damai. Opsi kebijakan yang dapat dikembangkan adalah mendokumentasikan dan mereplikasi model-model resolusi konflik berbasis kearifan lokal yang sudah teruji di Jawa Timur ke daerah lain di Indonesia dan dunia internasional. Strategi solutif meliputi penguatan peran strategis lembaga-lembaga keagamaan dan pendidikan sebagai agen perdamaian, serta mendorong penelitian dan pertukaran praktik terbaik (best practices) dalam mengelola keragaman. Langkah konkret yang dapat diambil adalah menjadikan Jawa Timur sebagai pusat pelatihan dan konferensi internasional tentang resolusi konflik horizontal, sehingga modal sosialnya dapat dijadikan referensi global dalam membangun masyarakat yang inklusif dan toleran.